
Kerinci (MAN 1 Kerinci) . Bukan sekadar mencatat pelanggaran, tetapi membaca pola dan menentukan pembinaan! Farhan Fajar Pratama, M.Pd. tampil membawa gebrakan melalui Aplikasi GETAR (Gerakan Tertib Bareng) pada Presentasi dan Demonstrasi Inovasi Pemilihan Pegawai Inovatif Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci Tahun 2026 yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting, Rabu (12/8/2026).
Di antara 30 peserta dari berbagai satuan kerja, Farhan membawa inovasi pada kategori digital dan teknologi informasi dengan topik Sistem Digital Ketertiban dan Pembinaan Siswa Berbasis Data. GETAR mengusung semangat sederhana namun kuat: Catat cepat, pantau tepat, bina bersama.
Dari Catatan yang Mudah Hilang, Kini Ketertiban Bisa Dipantau!
GETAR lahir dari persoalan nyata yang ditemui dalam pengelolaan kedisiplinan peserta didik di MAN 1 Kerinci.
Sebelumnya, catatan pelanggaran siswa masih bergantung pada buku, kertas, catatan petugas hingga laporan lisan. Ketika catatan tercecer atau sulit ditemukan kembali, riwayat perilaku siswa menjadi sulit ditelusuri. Kondisi tersebut dapat membuat pengulangan pelanggaran tidak terbaca dan pembinaan terlambat dilakukan.
Digitalisasi sebenarnya telah dimulai melalui STP2K pada Januari 2026. Namun setelah digunakan, muncul kebutuhan untuk menghadirkan sistem yang lebih cepat, memiliki pembagian akun yang jelas dan menghubungkan data pelanggaran dengan proses pembinaan siswa secara lebih utuh.
Dari evaluasi itulah GETAR lahir dan dikembangkan.
Bukan Cuma Mencatat, GETAR Bisa Membaca Pola
Inilah yang membuat inovasi Farhan menarik.
GETAR tidak berhenti sebagai aplikasi pencatat pelanggaran. Sistem berbasis web tersebut dilengkapi akun sesuai peran, Input Cepat, Mode Razia Kelas, pengurangan poin otomatis berdasarkan klasifikasi pelanggaran, riwayat pelanggaran berulang, prioritas pembinaan hingga mekanisme pemulihan poin setelah siswa menjalani pembinaan.
Dengan konsep tersebut, data tidak sekadar disimpan.
Data dibaca. Pola dikenali. Siswa yang membutuhkan perhatian dapat diprioritaskan. Pembinaan pun dapat dilakukan lebih terarah.
GETAR mengubah orientasi dari sekadar, siapa yang melakukan pelanggaran, menjadi, siapa yang perlu segera dibina.
Kelola Sekitar 390 Siswa dan 21 Kelas
GETAR mulai diuji coba pada Mei 2026 dan mulai diterapkan pada Juli 2026 untuk Tahun Ajaran 2026/2027.
Sistem tersebut telah dirancang mendukung pengelolaan ketertiban sekitar 390 siswa yang tersebar dalam 21 kelas, dengan sekitar 60 akun yang melibatkan guru, wali kelas, Guru BK, pimpinan dan admin.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa GETAR bukan sekadar gagasan di atas proposal, tetapi diarahkan untuk menjadi bagian dari pola kerja nyata dalam pengelolaan kedisiplinan di MAN 1 Kerinci.
Tertib Bareng, Ketertiban Jadi Gerakan Bersama
Nama Gerakan Tertib Bareng juga membawa filosofi tersendiri.
Farhan memandang persoalan kedisiplinan tidak seharusnya hanya menjadi pekerjaan guru piket atau Guru BK. Ketertiban membutuhkan keterlibatan guru, wali kelas, BK, pimpinan, admin hingga peserta didik.
Karena itu, GETAR dikembangkan dengan semangat kolaborasi.
Transformasi yang dibawa tidak sekadar menambah menu aplikasi, tetapi mengubah alur kerja dari mencatat kesalahan, membaca pola, menentukan prioritas pembinaan, mendokumentasikan tindak lanjut hingga memberi kesempatan siswa memperbaiki diri.
Poin Bisa Berkurang, Tapi Siswa Juga Diberi Kesempatan Memperbaiki Diri
Ada satu sisi menarik dari GETAR.
Sistem memang menerapkan konsekuensi berupa pengurangan poin sesuai klasifikasi pelanggaran. Namun GETAR tidak berhenti pada pemberian hukuman.
Peserta didik yang telah menjalani pembinaan dan menunjukkan upaya memperbaiki diri dapat memperoleh pemulihan poin. Pendekatan tersebut memperkuat fungsi aplikasi sebagai sarana pembinaan, bukan hanya sebagai alat pencatat kesalahan.
Dengan demikian, teknologi ditempatkan untuk membantu guru memahami perjalanan perilaku siswa secara lebih utuh.
Farhan Bawa Wajah Baru Pembinaan Siswa
Keikutsertaan Farhan Fajar Pratama dalam Pemilihan Pegawai Inovatif Tahun 2026 menjadi salah satu bukti bahwa inovasi pendidikan dapat lahir dari persoalan yang ditemui setiap hari.
Dari buku dan kertas yang mudah tercecer, beranjak ke STP2K, lalu berkembang menjadi GETAR.
Manual ? Digital ? Pembinaan Berbasis Data.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang sempurna. Inovasi dapat tumbuh dari evaluasi, diperbaiki dari pengalaman, kemudian dikembangkan agar semakin sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Kepala MAN 1 Kerinci, Mira Zuzana, S.P., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi hadirnya inovasi yang dikembangkan guru dan pegawai di lingkungan madrasah.
Kami ingin inovasi yang lahir di MAN 1 Kerinci benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata dan memberikan manfaat. GETAR menunjukkan bahwa persoalan kedisiplinan siswa dapat dikelola dengan pendekatan yang lebih tertib, kolaboratif dan berbasis data. Inovasi seperti ini harus terus dikembangkan agar dampaknya semakin dirasakan,ungkapnya.
Melalui GETAR, Farhan membawa pesan bahwa teknologi di madrasah tidak harus selalu berbicara tentang pembelajaran di dalam kelas.
Teknologi juga bisa hadir untuk membantu guru membina, membaca pola perilaku dan mendampingi siswa menjadi lebih baik.
GETAR bukan sekadar aplikasi pelanggaran. GETAR adalah gerakan untuk tertib bersama catat lebih cepat, pantau lebih tepat, dan bina siswa secara bersama-sama.
|
291x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...