
Tidak banyak yang mengetahui bahwa MAN 1 Kerinci, salah satu madrasah tertua dan bersejarah di Provinsi Jambi, berakar dari perjuangan seorang ulama desa bernama H. Khalik. Jauh sebelum madrasah berdiri sebagai lembaga pendidikan negeri, Desa Sebukar di kawasan Tanah Cogok (Tanco), Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, telah dikenal luas sebagai pusat pendidikan Islam di Alam Kerinci sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pada masa awal pendudukan Jepang sekitar tahun 1942–1943, di Dusun Sebukar telah berdiri lembaga pendidikan Islam dengan sistem pengajaran madrasah. Para santri yang menimba ilmu tidak hanya berasal dari dusun-dusun di Kerinci, tetapi juga datang dari daerah tetangga seperti Pangkalan Jambu (Perentak), Sungai Manau, Muara Panco, Tabir Ulu (Kabupaten Merangin), hingga Inderapura dan Pesisir Selatan (Sumatera Barat). Uniknya, hampir setiap rumah masyarakat Sebukar pada masa itu dengan sukarela menampung santri untuk mondok. Dari sinilah lahir sebutan khas “Anak Siyak”, yang menggambarkan kuatnya identitas Sebukar sebagai kampung santri.
Di balik tumbuhnya tradisi keilmuan tersebut, sosok H. Khalik tampil sebagai figur sentral. Pada masa mudanya, H. Khalik menuntut ilmu agama Islam di Kota Suci Makkah selama dua periode dengan total sekitar 15 tahun. Setelah kembali ke tanah air pada awal 1940-an, ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk dakwah dan pendidikan. Pengajian agama dimulai dari kediamannya sendiri, dengan anggota pengajian berasal dari Sebukar dan dusun-dusun sekitar. Pendekatan yang santun, persuasif, dan membumi menjadikan pengajian ini berkembang pesat.
Seiring meningkatnya jumlah santri, pada dekade 1950-an H. Khalik bersama para ulama setempat mulai merintis sistem pendidikan madrasah dengan sistem kelas. Bangunan madrasah saat itu masih sangat sederhana, terbuat dari bambu, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat serta para santri. Meski sederhana, madrasah Sebukar berhasil melahirkan banyak alumni yang kemudian berkiprah sebagai ulama, dosen perguruan tinggi keagamaan Islam, serta aparatur sipil negara di Provinsi Jambi dan wilayah sekitarnya.
Jejak panjang pendidikan Islam inilah yang kemudian berkembang hingga berdirinya Madrasah Aliyah di Sebukar dan akhirnya dinegerikan pada tahun 1978. Lembaga tersebut kini dikenal sebagai MAN 1 Kerinci, yang terus tumbuh menjadi madrasah unggulan dengan berbagai prestasi akademik dan nonakademik, tanpa meninggalkan akar nilai keislaman dan keulamaan para perintisnya.
Kepala MAN 1 Kerinci, Mira Zuzana, S.P., S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa sejarah perjuangan H. Khalik dan masyarakat Sebukar merupakan fondasi penting bagi identitas madrasah hingga hari ini.
“MAN 1 Kerinci tidak lahir secara tiba-tiba. Madrasah ini tumbuh dari perjuangan panjang para ulama dan masyarakat Sebukar, terutama H. Khalik, yang dengan keikhlasan menanamkan nilai keilmuan dan akhlak. Sejarah ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga ruh pendidikan Islam yang berakar pada pengabdian dan keteladanan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa MAN 1 Kerinci berkomitmen melanjutkan warisan tersebut dengan menghadirkan pendidikan yang unggul, moderat, dan berdaya saing, sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan oleh para pendiri madrasah.
Melalui perjalanan panjang dari kampung santri Sebukar hingga menjadi madrasah negeri yang maju, MAN 1 Kerinci membuktikan bahwa lembaga besar dapat tumbuh dari kesederhanaan, selama dibangun di atas keikhlasan, ilmu, dan pengabdian kepada umat—sebagaimana dicontohkan oleh ulama besar H. Khalik.
|
980x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...